Selasa, 06 November 2018

Isolasi Bakteri


I.                   PENDAHULUAN

B.     Latar belakang
Didalam bidang ilmu mikrobiologi, untuk dapat menelaah bakteri khususnya dalam skala laboratorium, maka terlebih dahulu kita harus dapat menumbuhkan mereka dalam suatu biakan yang mana di dalamnya hanya terdapat baktri yang kita butuhkan tersebut tanpa adanya kontaminasi dari mikroba lain. Biakan yang semacam ini biasanya dikenal dengan istilah biakan murni. Untuk melakukan hal ini, haruslah di mengerti jenis-jenis nutrien yang disyaratkan bakteri dan juga macam ligkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhan bakteri tersebut (Pelczar dan Chan, 1986).
Pemindahan bakteri dari medium lama ke medium yang baru atau dikenal dengan istilah inokulasi bakteri ini memerlukan banyak ketelitian. Terlebih dahulu kita harus mengusahakan agar semua alat-alat yang akan digunakan untuk pengerjaan medium dan pengerjaan inokulasi benar-beanr steril. Hal ini untuk menghindari terjadinya kontaminasi, yaitu masuknya mikroba lain yang tidak diinginkan sehinggabiakan yang tumbuh di dalam medium adalah benar-benar biakan murni (Dwidjoseputro, 1980).
Pada praktikum yang dilakukan akan dikenalkan dan dipelajari beberapa metode isolasi bakteri, yaitu metode  streak plate (metode penggoresan diatas medium agar, sehingga didapatkan koloni tunggal), metode pour plate (menuangkan sampel bakteri kemudian medium agar, lalu diratakan dalam petrdish), serta metode spread plate (metode penumbuhan bakteri diatas medium agar, lalu meratakannya dengan trigalski). Dalam praktikum ini juga akan mempelajari cara mengisolasi bakteri dari udara, Starbio dan Rodac.

C.     Tujuan
1.      Mengenal beberapa teknik (pour plate, streak plate, spread plate) dalam mengisolasi bakteri Eschericia coli dan Bascilus subtilis.
2.      Mengetahui kegunaan masing-masing metode dalam mengisolasi bakteri untuk tujuan tertentu, serta melihat sifat bakteri yang diisolasi.
3.      Mengetahui dan mempelajari cara mengisolasi bakteri udara
4.      Mengetahui salah satu uji sanitasi (Rodac)



II.                TINJAUAN PUSTAKA

Bakteri merupakan mikroorganisme yang pada umumnya bersel satu. Bakteri memiliki struktur sel yang sederhana, dan tidak memiliki nukleus. Bakteri umumnya berukuran sekitar 0,5-5 mikrometer (Fank, 1998). Koloni bakteri sendiri adalah kumpulan dari bakteri yang membentuk kelompok.  Terdapat banyak bentuk koloni, tegantung dari spesies dan ciri khasnya. Sifat-sifat yang diperlukan dalam menentukan identifikasi suatu spesies misalnya seperti besar kecilnya koloni, mengkilat tidaknya, halus kasarnya permukaan, dan warna koloni (Dwidjoseputro, 1987). Morfologi koloni bakteri akan mempermudah dalam pengidentifikasian jenis bakteri (Fitria dan Yasmin, 2011).
Bakteri yang hidup di alam terbuka jarang dijumpai tumbuh sebagai biakan murni. Isolasi bakteri adalah pemindahan bakteri dari lingkungan di alam dan menumbuhkan sebagai biakan murni dalam medium buatan. Memindahkan bekteri dari medium lama ke medium yang baru diperlukan ketelitian dan pensterilan alat-alat yang digunakan, sehingga dapat terhindar dari terjadinya kontaminasi. Pada pemindahan bakteri di cawan petri tersebut harus dibalik. Hal ini berfungsi untuk menghindari adanya tetesan air yang mungkin melekat pada dinding tutup cawan petri (Dwijoseputro, 1989).
Mikrobia yang hidup di alam terdapat sebagai populasi campuran dari berbagai jenis mikrobia yang berbeda. Prinsip dari isolasi mikrobia adalah memisahkan satu jenis mikrobia dengan mikrobia lain dari lingkungannya di alam dan ditumbuhkan di medium buatan. Pertumbuhan mikrobia dapat dilakukan dalam medium padat, karena dalam medium padat sel-sel mikrobia akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya (Sutedjo dan Kartajapoetra, 1991).
Isolasi bakteri merupakan pengambilan atau memindahkan mikroba dari lingkungannya  di  alam  dan menumbuhkannya  sebagai  biakan  murni dala medium  buatan (Fitri dan Yasmin, 2011). Bakteri dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya harus menggunakan prosedur aseptik. Aseptik berarti bebas dari sepsis merupakan kondisi terkontaminasi karena mikroorganisme lain. Teknik aseptis sangat penting bila bekerja kontak dengan bakteri. Beberapa alat yang digunakan untuk menjalankan prosedur ini adalah bunsen dan laminar air flow. Bila tidak dijalankan dengan tepat, ada kemungkinan kontaminasi oleh miroorganisme lain sehingga akan mengganggu hasil yang diharapkan. Teknik aseptik juga melindungi laboran dari kontaminasi bakteri (Singleton dan Sainsbury, 2006).
Ada beberapa metode untuk menginokulasi bakteri sesuai dengan jenis medium tujuannya. Pada medium agar tegak, dilakukan metode tusuk menggunakan jarum ose. Pada medium agar miring, dilakukan metode gores dengan menggunakan loop ose. Pada medium petridish, dapat digunakan metode streak plate (metode gores), pour plate (metode tuang) atau spread plate (metode sebar). Setelah inokulasi, dilakukan proses inkubasi, yaitu menyimpan medium pada alat atau kontainer ada temperature tertentu dan periode tertentu, sehingga tercipta lingkungan yang menyediakan kondisi cocok untuk pertumbuhan bakteri (Harley dan Presscot, 2002).
Metode-metode untuk mengisolasi biakan murni mikroorganisme menurut Pelczar dan Chan (1986) adalah:
1.      Cawan gores: Inokulum digoreskan di permukaan medium agar nutrient, dalam cawan petri, dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah-pisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni-koloni terpisah.
2.      Cawan tebar: Setetes inokulum diletakkan di tengah-tengah medium agar nutrient, dalam cawan petri, dan dengan menggunakan batang kaca bengkok yang steril, inokulum itu disebarkan di permukaan medium. Batang yang sama dapat digunakan untuk menginokulasi pinggan kedua untuk menjamin penyebaran sel-selnya dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni-koloni yang terpisah.
3.      Cawan tuang: Dengan lup inokulasi, pindahkan satu lup penuh suspense asal ke sebuah tabung (medium agar cair steril yang agak dingin). Tabung tersebut digelindingkan di antara kedua tangan agar inokulumnya tercampur secara merata. Pemindahan serupa dilakukan pada tabung-tabung selanjutnya. Isi setiap tabung dituangkan ke dalam cawan petr i terpisah. Setelah inkubasi, cawan-cawan diperiksa kalau-kalau ada koloni-koloni yang terisolasi. Dari cawan yang berisikan koloni-koloni terisolasi, dapat diisolasi biakan murni mikroorganisme dengan memindahkan seebagian dari satu koloni ke dalam tabung berisi medium steril.
Medium pada petri dish umumnya digunakan memelihara bakteri dalam lempengan (di dalam petridish) sampel bakteri diambil dengan menggunakan jarum ose. Jarum ose kemudian digesekkan dengan gerakan ke kanan dan ke kiri sampai meliputi seluruh permukaan agar-agar. Sehingga akan diperoleh koloni-koloni yang menggerombol dan koloni-koloni yang memencil. Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan, dan tepi. Bentuk koloni dilukiskan sebagai titik-titik, bulat, berbenang, tak teratur, serupa akar, serupa kumparan. Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung, timbul mencembung, timbul membukit, timbul berkawah. Tepi koloni ada yang utuh, ada yang berombak, ada yang berbelah-belah, ada yang bergerigi, ada yang berbenang-benang, ada yang keriting (Dwidjoseputro, 1987).
Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan menumbuhkannya dalam suatu medium buatan. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya. Isolasi bakteri atau biakan yang terdiri dari satu jenis mikroorganisme (bakteri) dikenal sebagai biakan murni atau biakan aksenik. Biakan yang berisi lebih dari satu macam mikroorganisme (bakteri) dikenal sebagai biakan campuran, jika hanya terdiri dari dua jenis mikroorganisme, yang dengan sengaja dipelihara satu sama lain dalam asosiasi, dikenal sebagai biakan dua-jenis (Sandjaja, 1992).
Isolasi suatu galur murni pada prinsipnya dapat dilakukan secara bertingkat. Tingkat pertama bebas dilakukan secara manual yaitu dengan cara sejauh mungkin mengencerkannya, seringkali sampai 10-4 atau 10-6. Tingkat kedua adalah dengan media yang bersifat selektif bagi mikroba tertentu atau beberapa mikroba tertentu yang mungkin masih satu golongan. Tingkat ketiga dari koloni yang seolah -olah yang sudah mungkin masih perlu untuk diencerkan kembali atau diisolasi ulang agar dapat lebih menyakinkan. Selanjutnya diperlukan berbagai metode karakteristik sebagai pembuktian bahwa galur isolat yag diperoleh benar-benar galur murni (Mulyono, 1992).
Prinsip kerja isolasi bakteri cukup sederhana yakni dengan menginokulasikan sejumlah kecil bakteri pada suatu medium tertentu yang dapat menyusung kehidupan bakteria. Sejumlah kecil bakteri ini didapat dari bermacam-macam tempat tergantung dari tujuan inokulasi. Dalam kajian mikrobiologi yang berhubungan dengan sumber bakteri adalah mikrobia tanah, air, makanan dan udara (Talaro, 1999).
Tujuan dari pemindahan biakan untuk menguasai teknik pemindahan biakan bakteri dari satu wadah ke wadah lain secara aseptik, sehingga hanya biakan murni yang diharapkan yang tumbuh. Hal ini sangat penting dalam tahap awal pekerjaan isolasi mikroba terutama yang berasal dari stok kultur (bukan dari substrat). Kegagalan dalam hal pemindahan biakan dapat menyebabkan kontaminasi dari pertumbuhan mikroba yang tidak diharapkan (Dwidjoseputro, 1990).
Menurut Meryandini, dkk (2009),  sebelum melakukan isolasi terlebih dahulu dilakukan pengambilan sampel. Macam-macam pengambilan sampel menurut tempatnya :
1.      Sampel tanah
Jika mikroorganisme yang diinginkan berada di dalam tanah, maka cara pengambilannya disesuaikan dengan tujuan. Misal jika yang diinginkan adalah mikroorganisma rhizosfer maka sampel diambil dari sekitar perakaran dekat permukaan tanah.
2.      Sampel udara
Teknik pengambilan hanya dengan membuka tutup cawan petri yang berisi media steril selama ±5 menit.
Menurut Jutono, dkk.(1980), berdasarkan sumber makanan,  bakteri tanah dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
(1) Bakteri Autotroph atau Bakteri Lithotropik, yaitu bakteri yang dapat menghasilkan makanan sendiri, contohnya: bakteri nitrifikasi, dll. Berdasarkan sumber energi yang diperlukan, dibagi menjadi:
(a)  Bakteri Photoautotroph / Bakteri  Foto Lithotropik, sumber energi yang digunakan berasal dari sinar matahari.
(b)   Bakteri Khemoautotroph / Bakteri  Khemolithotropik, sumber energi yang digunakan dari hasil oksidasi  bahan organik.
(2) Bakteri Heterotroph atau Bakteri Organotropik, yaitu bakteri yang mendapatkan makanan dari bahan organik atau sisa-sisa dari makhluk hidup lain, baik fauna maupun flora, dan baik yang makro maupun yang mikro. Berdasarkan sumber makanannya dibagi menjadi dua kelompok :
(a)   Bakteri Photoheterotroph / Bakteri Fotoorganotropik, sumber energi yang digunakan berasal dari sinar matahari.
(b)  Bakteri Khemoheterotroph / Bakteri Khemoorganotropik, sumber energi yang digunakan dari hasil oksidasi bahan organik.
Menurut Dwidjoseputro (1980), pekerjaan memindahkan bakteri dari medium lama ke medium baru membutuhkan banyak ketelitian, terlebih dahulu harus diusahakan agar semua alat-alat yang ada sangkut pautnya dengan medium dan pekerjaan inokulasi itu benar-benar steril, ini untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya mikroorganisme yang tidak diinginkan. Perpindahan bakteri biasanya menggunakan kawat inokulasi dimana ujung sebaiknya dari platina atau mikrom. Ujung kawat lurus atau berupa bolongan berdiameter 1-3 mm. kawat terlebih dahulu dipanaskan, setelah dingin, ujung kawat disentuhkan pada suatu koloni. Mulut tabung tempat pemeliharaan itu juga dipanasi setelah sumbatnya diambil dan setelah pengambilan inokulasi selesai, mulut tabung dipanasi lagi untuk kemudian disumbat seperti semula.
Menurut Jutono (1980), ada beberapa macam cara untuk mengisolasi mikrobia. Untuk isolasi tersebut harus diperhatikan beberapa hal yang penting, antara lain :
1.    Sifat-sifat spesies mikrobia yang akan diisolasi
2.    Tempat hidup atau asal mikrobia tersebut
3.    Medium untuk pertumbuhannya yang sesuai
4.    Mikroba yang akan ditanam steril
Bakteri mudah ditemukan di air, udara, dan tanah. Mereka hidup dalam suatu koloni, baik bersimbiose, bebas, ataupun parasit pada makhluk hidup. Jumlah bakteri di alam sangat melimpah dengan keragaman yang sangat tinggi. Untuk mempelajari kehidupan dan keragaman bakteri, diperlukan suatu usaha untuk mengembakbiakkan mereka dalam skala laboratorium. Pengembangbiakan ini dilakukan dengan menumbuhkan bakteri dari sumber isolat, seperti tanah, udara, sisa makanan, dan lain-lain, dalam media yang mengandung nutrisi. Media pertumbuhan bakteri sangat beragam, mulai dari media selektif, media penyubur, media diferensial, dll. Masing-masing media memiliki fungsi berbeda dan digunakan tergantung tujuan dari praktikan. Dalam mempelajari sifat pertumbuhan dari masing-masing jenis mikroorganisme, maka mikroorganisme tersebut harus dipisahkan satu dengan yang lainnya, sehingga didapatkan kultur murni yang disebut isolat. Kultur murni merupakan suatu biakan yang terdiri dari sel-sel dari satu species atau satu galur mikroorganisme. Kultur murni diperoleh dengan cara isolasi menggunakan metode tuang maupun gores (Pelczar dan Chan, 1986).
Menurut Fadzkur dkk., (2011), udara merupakan suatu komponen yang paling utama untuk mempertahankan kehidupan. Karena metabolisme dalam tubuh suatu makhluk hidup tidak mungkin bisa terjadi tanpa oksigen dalam udara. Kelompok mikroorganisme yang paling banyak ditemukan sebagai jasad hidup yang tidak diharapkan kehadirannya melalui udara, umumnya disebut jasad kontaminan. Udara terdiri atas berbagai campuran gas, antara lain oksigen, nitrogen, karbondioksida. Keberadaan oksigen dan karbondioksida di udara merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri di udara. Udara dapat menjadi salah satu transmisi bagi bakteri pathogen untuk dapat menginfeksi inang yang baru. Bakteri yang hidup di udara cenderung merupakan bakteri aerob (Bauman, 2007).





III.             METODE

A.           Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum isolasi bakteri adalah cawan petri, tabung reaksi, gelas benda, pipet tetes, jarum ose, bunsen, trigalski, kertas label, Laminair air flow, mikro pipet, gelas beker, mikro tube, rak tabung reaksi, inkubator, Erlenmeyer, karet, kapas, dan vortex.
Bahan yang digunakan pada praktikum isolasi bakteri adalah aquades, alkohol 70%, bakteri dari udara, bakteri Eschericia coli, bakteri Bascillus subtilis, medium nutrient agar, korek, dan medium nutrient broth.
B.                 Cara Kerja
1.      Streak plate method
Petridish diberi tanda dan dibagi menjadi tiga bagian kuadran yang sama. Bakteri Eschericia coli dan bakteri Bascillus subtilis, diambil masing-masing 1 ose secara aseptis. Ose digoreskan dengan arah zig-zag pada bagian pertama. Ose difiksasi dengan bunsen. Ose yang telah difiksasi ditempelkan sebentar pada bagian akhir goresan di bidang pertama baru kemudian digoreskan pada bidang kedua. Cara tersebut dilakukan hingga bidang terakhir, yaitu bidang keempat. Petridish dibungkus dengan kertas payung dan diinkubasi pada suhu 370C selama 48 jam, kemudian pertumbuhan diamati.
2.      Pour plate method
Mikrobia murni Bakteri Eschericia coli dan bakteri Bascillus subtilis,  diambil secara aseptis sebanyak 0,1 ml dengan mikropipet dan disemprotkan pada petri kosong. NA yang telah dipanaskan yang ada pada erlenmeyer dituang ke cawan petri kemudian diratakan seperti bentuk angka delapan.  Larutan tersebut kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 48 jam, kemudian diamati.

3.      Spread plate method
Larutan diambil sebanyak 0,1 ml secara aseptis dengan mikropipet dan dituang pada medium agar petri. Larutan kemudian diratakan dengan trigalski secara searah dan diinkubasi pada suhu 370C selama 48 jam.
4.      Isolasi Bakteri Udara
Nutrien agar dalam petridish dibiarkan terbuka selama 3 menit. Nutrien agar dalam petridish tersebut ditutup dan dibungkus kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 48 jam.
5.      Isolasi Bakteri Starbio
Bakteri Starbio sebanyak satu gram dimasukkan dalam erlenmeyer, lalu disuspensikan dalam 99 ml aquades. Suspensi diambil sebanyak satu ml, kemudian dibuat seri pengenceran dengan kelipatan 10, yaitu : 10-2, 10-4, dan 10-6. Pada seri pengenceran 10-2, 10-4, dan 10-6 masing-masing diambil sebanyak 1 ml kemudian diteteskan pada petridish, lalu dituangkan medium agar cair, kemudian ditutup dan diinkubasi selama 48 jam. Setelah diinkubasi, bakteri diamati pertumbuhannya serta sifatnya terhadap udara.












IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN

Isolasi bakteri adalah suatu cara untuk memindahkan mikrobia dari lingkungannya di alam dan menumbuhkannya dalam medium buatan. Cara-cara untuk mengisolasi bakteri antara lain adalah:
a.    Streak plate method (cara goresan)
Menggoreskan suspensi bahan yang mengandung bakteri pada permukaan medium agar yang sesuai dalam petridish. Setelah diinkubasi, pada bekas goresan pada petridish akan muncul koloni bakteri.
b.    Pour plate method (cara taburan)
Menginokulasikan suspensi bahan yang mengandung bakteri ke medium agar yang sedang mencair dan menuangkannya pada petridish. Suspensi disemprotkan ke dalam petridish, dan setelah diinkubasi akan terlihat koloni bakteri.
c.    Spread method
Menginokulasikan suspensi bahan yang mengandung bakteri ke atas medium kemudian diratakan dengan trigalski. Setelah diinkubasi, akan terlihat koloni bakteri di permukaan medium agar.
Menurut Pelczar dan Chan (1986), Perbedaan isolasi dan inokulasi adalah Isolasi merupakan proses pemindahan mikroorganisme dari lingkungan ke medium sedangkan inokulasi proses pemindahan mikroorganisme dari medium ke medium yang lebih steril lagi.
1.      Streak Plate
Metode yang pertama adalah streak plate. Metode ini digunakan untuk menumbuhkan bakteri aerob dan bertujuan untuk memisahkan bakteri secara individual. Metode ini efektif untuk pengamatan morfologi dan identifikasi, namun bentuk dan struktur kurang diperhatikan kecuali untuk bakteri yang banyak kemiripan morfologinya. Percobaan dilakukan dengan membagi petridish yang berisi medium agar dalam empat bagian. Ose yang telah mengandung bakteri digoreskan dengan arah zig-zag pada bagian pertama. Kemudian, ose difiksasi dengan api agar steril. Selanjutnya, ose yang telah difiksasi ditempelkan sebentar pada bagian akhir goresan di bidang pertama baru kemudian digoreskan pada bidang kedua. Cara tersebut dilakukan hingga bidang terakhir, yaitu bidang ke empat.
Goresan pada bidang pertama merupakan goresan paling tebal dan koloni bakterinya masih bertumpuk-tumpuk. Semakin banyak gerakan penggoresan maka jumlah bakteri pada ose akan berkurang sehingga  goresan pada bidang keempat akan meninggalkan koloni bakteri individual yang sudah terpisah satu sama lain.
Setelah proses inokulasi selesai, petridish dibungkus dengan kertas payung dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 48 jam. Tujuan dari inkubasi adalah agar bakteri mendapatkan lingkungan yang optimal untuk bertumbuh. Setelah diinkubasi, maka pada bekas goresan akan tampak koloni-koloni bakteri. Keuntungan dari metode ini adalah dapat diperoleh koloni yang terpisah satu sama lain sehingga dapat diamati dengan jelas. Selain itu, metode ini sangat efektif karena apabila dilakukan dengan benar maka akan didapatkan bakteri yang diinginkan. Sedangkan kerugian dari metode ini adalah hanya untuk bakteri yang bersifat aerob dan tidak bisa untuk yang bersifat anaerob. Selain itu, dibutuhkan ketelitian dan keterampilan karena proses penggoresan yang salah dapat membuat proses isolasi gagal.
Pada metode streak plate, dengan bakteri Eschericia coli dapat dilihat bahwa pertumbuhan bakterinya merata disetiap goresan, tidak ada kontaminan, dan bakteri tersebut diketahui bersifat aerob karena bakteri akan tumbuh berupa goresan-goresan di atas permukaan medium. Bakteri Bascillus subtilis dapat dilihat bahwa pertumbuhan bakterinya tidak merata, karena disebabkan kurang teliti saat menarik goresan. Tidak ada kontaminan, dan bakteri tersebut diketahui bersifat aerob. Metode ini memiliki keunggulan yaitu, dapat menghemat bahan dan waktu. Streak plate method ini sangat efektif untuk mengetahui sifat bakteri yang ditanam, bakteri yang tumbuh secara merata sesuai bentuk goresan-goresan ini menyebabkan bakteri-bakteri tersebut memperoleh cukup nutrisi, sehingga tidak akan ada persaingan memperebutkan makanan. Kekurangan metode ini ialah tidak dapat digunakan untuk menumbuhkan bakteri anaerob, disamping itu cara pengerjaannya lebih rumit daripada pour plate method


2.      Pour plate
Metode yang kedua adalah metode pour plate. Metode ini dapat menumbuhkan bakteri anaerob dan aerob. Metode ini menyebabkan bakteri yang terinokulasi dapat tumbuh tersebar di seluruh permukaan medium, baik di permukaan maupun di tengah-tengah. Jika proses penginokulasian dilakukan dengan tidak benar maka akan terbentuk spreader yaitu pertumbuhan yang bakteri yang terlalu banyak sehingga morfologi koloni bakteri terlihat bertumpuk-tumpuk. Spreader terjadi karena bakteri kurang diencerkan sehingga masih terlalu banyak bakteri yang tumbuh.
Percobaan dengan metode ini dilakukan dengan cara menginokulasikan suspensi bakteri pada petridish kosong, kemudian medium agar yang sedang mencair dituangkan ke dalam petridish tersebut. Selanjutnya, petridish digerakkan membentuk angka delapan pada meja. Tujuannya adalah agar suspensi bakteri dapat tercampur merata dengan medium agar.
Setelah proses inokulasi selesai, petridish dibungkus dengan kertas payung dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 48 jam. Tujuan dari inkubasi adalah agar bakteri mendapatkan lingkungan yang optimal untuk bertumbuh. Metode pour plate memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah  proses pengerjaan lebih sederhana dibanding metode streak plate, pertumbuhan koloni akan mudah diamati karena ada bakteri yang dapat hidup di permukaan medium dan di tengah-tengah medium. Selain itu, tidak ada persaingan antar bakteri untuk mengambil oksigen karena letak bakteri tersebut tersebar. Tetapi, kekurangan metode ini adalah mudah terkena kontaminasi bila dalam pengerjaannya kurang aseptis, dapat terjadi spreader, dan membutuhkan nutrien yang banyak untuk pertumbuhan bakteri
Pada metode pour plate, dapat dilihat bahwa pertumbuhan bakterinya merata, tidak terdapat kontaminan, bakteri tersebut diketahui bersifat aerob. Keuntungan isolasi dengan pour plate method adalah dapat memperoleh banyak jenis bakteri, volume yang dapat diinokulasikan dalam jumlah besar (0,1-1 ml), pour plate method dalam proses pengerjaannya lebih sederhana dibandingkan dengan streak plate method. pertumbuhan koloninya mudah diamati karena bakteri yang dapat hidup ada di permukaan medium dan di tengah-tengah medium. Kelemahan menggunakan metode pour plate method ini yaitu mudah terkontaminasi, serta terkadang koloni yang terbentuk nampak berkumpul di satu sisi saja ataupun menyebar tidak merata, dan pertumbuhan koloninya sulit diamati karena bakteri yang dapat hidup ada di permukaan medium dan di tengah-tengah medium.

3.      Spread Plate
Metode yang ketiga adalah spread plate. Tujuan dari isolasi dengan metode ini 
adalahmendapatkan koloni tunggal dengan teknik penanaman dan penyebaran suspensi
bakteri pada permukaan medium. Percobaan dengan metode ini dilakukan dengan cara
menyemprotkan suspensi bakteri di atas permukaan medium agar padat. Suspensi bakteri
tersebut kemudian diratakan dengan trigalski. Bakteri yang ditumbuhkan dengan metode ini
adalah bakteri aerob (bakteri yang membutuhkan oksigen).
Setelah proses inokulasi selesai, petridish dibungkus dengan kertas payung dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 48 jam. Tujuan dari inkubasi adalah agar bakteri mendapatkan lingkungan yang optimal untuk bertumbuh. Metode spread plate memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah  cara inokulasi cukup mudah, dapat diperoleh koloni yang terpisah, dan koloni bakterinya mudah untuk diamati. Sedangkan kekurangan metode ini adalah mudah terjadi kontaminan bila dalam pengerjaannya kurang aseptis. Selain itu, apabila perataan dengan trigalski kurang merata maka koloni yang terbentuk akan terkumpul di suatu tempat saja.
Pada metode spread plate, dengan bakteri Bascillus subtilis dapat dilihat bahwa pertumbuhan bakterinya merata, dan bakteri tersebut diketahui bersifat aerob karena bakteri akan tumbuh berupa spreader di atas permukaan medium.

Bakteri  Eschericia Coli dapat dilihat bahwa pertumbuhan bakterinya merata, dan bakteri tersebut diketahui bersifat aerob. Keuntungan dari metode spreed plate adalah akan diperoleh koloni-koloni bakeri yang terpisah dan tersebar di permukaan medium agarnya dengan ketentuan pada saat meratakan bakteri arah harus searah, agar bisa didapatkan koloni bakteri yang baik dan biakan murni bakteri yang diinginkan. Kelemahannya metode spreed plate yaitu jika bakteri disemprotkan terlalu banyak maka medium agar akan penuh maka pada saat perataaan dengan trigalski bisa saja membuat bakteri terpisah dan tidak tumbuh dengan merata.

Berdasarkan ketiga metode tersebut, cara isolasi bakteri dengan metode streak plate merupakan metode yang paling efektif. Metode streak plate akan menumbuhkan bakteri secara teratur dan terpisah sesuai dengan goresan-goresan yang dibuat sehingga lebih mudah untuk diamati. Metode pour plate dan spread plate lebih mudah dalam pengerjaannya, tetapi kemungkinan terjadinya spreader lebih besar sehingga koloni bakteri sulit untuk diamati.



V.       KESIMPULAN

Setelah dilakukan seluruh percobaan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
Isolasi bakteri Eschericia coli dan bakteri Bascillus subtilis dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu metode taburan suspensi biakan bakteri kemudian dituangkan agar yang mencair (pour plate) , metode goresan biakan bakteri pada agar petri menggunakan ose (streak plate) dan spread plate method yaitu meneteskan suspensi bakteri diatas medium agar petridish kemudian meratakannya menggunakan trigalski. Pour plate digunakan untuk mengisolasi bakteri yang belum diketahui sifatnya terhadap udara (aerob dipermukaan, mikroaerofilik di tengah, dan anaerod didasar medium agar). Streak plate digunakan untuk mendapatkan koloni tunggal pada jalur goresan, sehingga bakteri lebih mudah diamati (untuk bakteri aerob). Spread plate untuk mendapatkan koloni tunggal dengan teknik penanaman dan penyebaran suspensi bakteri pada permukaan medium sehingga diperoleh kultur murni (untuk aerob).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar